Muslim Pertama yang Jadi Anggota Parlemen Australia Disumpah dengan Al-Quran

Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen Australia, Ed Husic, disumpah hari Selasa kemarin (28/9) dengan Al-Quran tangannya.
Ed Husic, yang ibu dan ayahnya migran Bosnia, mengatakan, hal itu adalah kehormatan besar untuk berbakti di Canberra. Ia mengakui, jabatannya saat ini –sebagai Muslim pertama yang menjadi anggota parlemen Australia—adalah unik dan jadi tonggak dalam sejarah politik Australia.
“Mengingat latar belakang saya, ada beberapa orang yang mengambil sepotong kecil kebanggaan atau kebahagiaan,” katanya kepada surat kabar The Australian (29/9).
Husic yang tumbuh di daerah Sydney yang kini ia wakili, meraih kursi parlemen bersama Partai Buruh yang berkuasa pada pemilihan 21 Agustus lalu.
Dia berada di antara para anggota parlemen Australia yang diambil sumpahnya oleh kepala pengadilan tinggi di Canberra, Selasa lalu. Saat disumpah, ia memegang Al-Quran, sebagaimana layaknya seorang Muslim saat bersumpah.
Saat mengomentari keberhasilannya menjadi anggota parlemen, Husic mengatakannya sebagai “kemenangan Muslim Australia”.
Kaum Muslim Australia berjumlah sekitar 1,7 persen dari 22 juta total penduduk Australia. (Mel/abna/ddhongkong.org).*

"Biadab, Saat Orang Shalat Dihabisi"
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2010/09/25/72994/
MEDAN — Tindakan yang dilakukan Densus 88 terhadap Khairul Ghozali
bersama 4 orang jemaahnya saat shalat maghrib di Jalan Besar
Medan-Tanjung Balai Asahan, dinilai sebagai tindakan yang biadab tidak
berperikemanusiaan.
Pernyataan tersebut ditegaskan Adil Akhyar Al Medani, didampingi putri
kandung ustadz Ghozali, Rabbaniyah (17) kepada Sumut Pos (grup JPNN)
Jumat (24/9) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Jalan Hindu Medan.
”Biadab. Saat orang shalat dihabisi, seolah-olah negera ini bukan
Negara hukum.Dalam penyerangan biadab itu, dua orang jemaah itu tewas
di tempat akibat ditembaki Densus 88, sedangkan seorang lagi dapat
melarikan diri. Sementara itu abang saya, ustadz Ghozali itu terus
dianiaya diinjak-injak densus, namun abang saya itu tetap terus
sholatnya,” tegas pemilik Pondok Pesantren Dkwah Daarul Syifaa.
Atas penyerangan yang tidak berprikemanusiaan itu, sambung Akhyar,
diharapkan agar presiden segera meninjau dan membubarkan Densus 88
karena telah melanggar dan bertindak diluar hukum.
”Saya minta agar presiden SBY agar memperhatikan konfrensi pers
ini.Jangan presiden hanya mendengarkan laporan sepihak dari Kapolri
BHD.Kami juga meminta pada komisi III DPR-RI, untuk segera mngusut
tuntsa kasus ini, dan segera meninjau kembali densus 88, karena sudah
tidak berprikemanusiaan,” tegas Akhyar. Akhyar sendiri sudah
mengetahui keberadaan abang kandungnya tersebut, ustadz Ghozali yang
saat ini info yang dia terima berada di Mebes Polri.Sementara itu
langkah hukum yang akan ditempuh keluarga besar Ghozali yakni sudah
melamporkan kasus ini ke Amnesty Internasional.
”Saat ini kami sudah memberikan keterangan pada Amnesty
Internasional, laporan tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa
Inggris, nah untuk keponakan saya yang masih berumur beberapa bulan
yang ditahan Polres Tanjung Balai, bersama ibunya Kartini Panggabean,
kami juga sudah melaporkan ke Komisi Perli Anak Indonesia,” beber
pria berjubah putih ini.
Akhyar juga menceritakan selamatnya Kartini Panggabean istri dari
ustadz Ghozali, karena Cici (Kartini Panggabean red) berada di ruangan
lain. ”Namun usai penyerangan tersebut tidak berapa lama datang
Polres Tanjung Balai, ke kediaman abang saya seolah-olah tidak
mengetahui penyerangan tersebut.Saat itulah Kartini Panggabean bersama
anaknya yang masih berumur beberapa bulan diboyong ke Polres, dengan
alasan polisi untuk diminta keterangannya," terangnya.
Sementara itu salah seorang putrid ustadz Ghozali, yakni Rabbaniyah,
pelajar Kelas 2 SMA Kelas Muhammdiyah 18 Kampung Lalang yang turut
mendampingi pamannya Adil Akhyar Al Medani, di LBH Medan Jalan Hindu
Medan, berharap orangnya tuanya tersebut segera pulang kerumah untuk
berkumpul bersama keluarganya.
”Saya berhaharap buya (ayah) pulang secepatnya untuk berkumpul
bersama keluarga lagi.Saya yakin buya tidak bersalah untuk itu saya
hanya hanya bisa menyerahkan dan berdoa pada Allah SWT,” beber gadis
manis berkerudung hijau ini. Walaupun, ayahnya dicap teroris oleh
Densus 88, namun Rabbaniyah tetap percaya pada orang tuanya dan tetap
bersemangat untuk bersekolah.
”Saya berharap kasus penganiayaan buya saya dilakukan Densus 88, saat
menjalankan ibadah shalat maghrib, dapat menjadi perhatian serius dari
bapak Presiden SBY, agar polisi-polisi itu segera ditindak tegas
sesuai hukum yang berlaku,”tegas Rabbaniyah.(rud)
Pemilihnya Disebut ‘Orang Gila’, Geert Wilders Marah terhadap Duta Besar Indonesia
http://id.news.yahoo.com/tmpo/20100923/twl-pemilihnya-disebut-orang-gila-geert-e1a1e04.html
TEMPO Interaktif, Amsterdam – Pemimpin Partai untuk Kebebasan Belanda (PVV) yang anti-Islam, Geert Wilders, mendesak Menteri Luar Negeri Belanda memanggil Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Yunus Effendi Habibie. Wilders marah terhadap Yunus karena dalam sebuah wawancara di koran Belanda, Yunus mengatakan para pemilih PVV kemungkinan ‘orang gila’.
Menurut Wilders, istilah yang digunakan Yunus untuk menggambarkan para pemilih PVV tidak layak dilontarkan.
Yunus dalam wawancara dengan Financieele Dagblad, Kamis (23/9), mengatakan rencana kunjungan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono ke Belanda pada Oktober ini ‘mungkin terancam batal’ jika PVV menjadi bagian dari pemerintah baru.
»Tentu Presiden tidak akan datang ke sini jika ada seseorang di dalam cabinet yang menyatakan Islam terbelakang. Saya tidak mau Presiden saya terlihat seperti badut,” ujar Yunus dalam Financieele Dagblad.
Yunus juga mengatakan hubungan antara Belanda dengan Indonesia bakal terganggu jika Wilders bergabung dengan pemerintahan baru. Dalam koran itu disebutkan pula Yunus menganggap orang-orang yang memilih Wilders ‘kemungkinan orang gila’.
Menteri Luar Negeri Belanda Maxime Verhagen mengatakan kepada Nos tv bahwa pernyataan Yunus mengenai pendukung PVV adalah sesuatu yang ‘kurang bijak’. »Saya rasa ia kurang bijak ketika menggambarkan para pemilih PVV,” ujar Verhagen. »Seorang duta besar seharusnya tidak mengomentari mengenai pemilihan umum.”
Verhagen mengatakan dia berencana menghubungi Yunus.
Yunus sendiri mengatakan kepada Radio Netherlands Worldwide bahwa pernyataannya salah dikutip. Yunus sekaligus memastikan Yudhoyono bakal menepati janjinya untuk mengunjungi Belanda. Namun, Yunus mengaku jika Wilders ada dalam pemerintahan, kunjungan kenegaraan Yudhoyono bakal sedikit kurang menyenangkan.
Yunus juga mengatakan kepada pejabat senior Kementerian Luar Negeri Belanda bahwa seharusnya memang dia tidak berbicara mengenai pemilih di Belanda seperti komentar yang dia utarakan.
RADIO NETHERLANDS WORLDWIDE| DUTCHNEWS.NL| KODRAT SETIAWAN
F a i z a l
Recent Comments